Sengketa Blok Ambalat Kembali Memanas: RI-Malaysia Pilih Jalur Diplomasi
Jakarta, SINAR DUNIA MEDIA — Polemik Blok Ambalat, wilayah kaya minyak dan gas di perairan timur Kalimantan, kembali mencuat setelah Malaysia secara sepihak menyebut kawasan tersebut sebagai “Laut Sulawesi”, memicu ketegangan diplomatik dengan Indonesia.
Latar Belakang Sengketa
- Blok Ambalat telah menjadi obyek sengketa maritim antara Indonesia dan Malaysia sejak tahun 2005.
- Malaysia menyebut wilayah tersebut sebagai blok ND6 dan ND7, berdasarkan Peta Baru Malaysia 1979.
- Indonesia tetap menggunakan istilah “Ambalat” sebagai bagian dari klaim kedaulatan nasional.
Upaya Diplomatik
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memilih jalur damai dan diplomasi dalam menyelesaikan sengketa ini.
- Hingga kini, telah berlangsung 43 putaran negosiasi antara kedua negara sejak 2005.
- Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Abdul Kadir Jailani, menyebut proses negosiasi sebagai “kompleks secara teknis” namun tetap mengedepankan prinsip ASEAN dan UNCLOS.
Sikap Tegas Parlemen
- Legislator Amelia Anggraini dari Komisi I DPR RI menekankan bahwa kerja sama pengelolaan Ambalat tidak boleh mengurangi kedaulatan Indonesia.
- Ia meminta agar nomenklatur resmi Indonesia digunakan secara konsisten dalam forum internasional.
Pernyataan Malaysia
- Menlu Malaysia Mohamad Hasan menolak istilah “Ambalat”, menyebutnya sebagai upaya Indonesia memperkuat klaim.
- Ia menegaskan bahwa Malaysia akan melindungi setiap jengkal wilayah Sabah dan tetap berpegang pada hukum internasional, termasuk putusan ICJ 2002 terkait Sipadan dan Ligitan.
Potensi Kerja Sama Ekonomi
- Kedua negara membuka kemungkinan joint development di wilayah sengketa.
- Pertamina dan Petronas disebut sebagai calon mitra eksplorasi jika kesepakatan tercapai.
Sumber Dari :
