Pernyataan Budi Arie Setiadi yang melontarkan spekulasi mengenai percepatan Pemilu sebelum 2029 memicu reaksi keras dari Sekretaris Jenderal Gibran Berkarya (GB), Thadaru Yusra. Thadaru mengecam keras narasi yang bersumber dari “insting” pribadi tersebut karena dinilai menyesatkan dan berpotensi memicu kegaduhan di tengah ketenangan situasi politik nasional.
​Langkah Budi Arie dianggap bertolak belakang dengan upaya para kader muda dalam menjaga kondusivitas politik Pasca-Pemilu. Thadaru menyayangkan respons tokoh senior yang justru melemparkan wacana spekulatif, terutama setelah munculnya beberapa kali dinamika teknis protokoler terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—mulai dari Rapat Paripurna hingga Pesta Rakyat Kemerdekaan di Monas.​Lebih jauh, wacana ini dinilai berbahaya karena dapat menciptakan salah persepsi dan mengadu domba antara kubu Presiden Joko Widodo dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Narasi tersebut rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang sejak awal konsisten memelihara narasi perpecahan di antara kedua pemimpin tersebut.
​Status Budi Arie sebagai Ketua Umum Projo membuat publik rentan mengidentifikasikan pernyataannya sebagai cerminan sikap Jokowi. Kehadiran Jokowi di samping Budi Arie saat pernyataan itu terlontar memperkuat risiko munculnya kesimpulan keliru di tengah masyarakat.
​Spekulasi politik Budi Arie juga dikaitkan dengan rentetan penolakan dari berbagai kekuatan politik utama belakangan ini. Setelah diterpa isu gagal bergabung ke Partai Gerindra usai Kongres Projo III pada November 2025, langkahnya untuk merapat ke PSI pun bertepuk sebelah tangan setelah partai tersebut secara terbuka menyatakan bahwa Budi Arie bukan bagian dari mereka.
​Adanya penolakan berturut-turut dari “Partai Prabowo” maupun “Partai Jokowi” menimbulkan dugaan bahwa manuver wacana tersebut sengaja diluncurkan untuk memicu keretakan hubungan. Atas dasar itu, Sekjen Gibran Berkarya menuntut Budi Arie segera menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka kepada Jokowi, Prabowo, dan Gibran guna menjaga marwah Projo.
​Seluruh organ relawan diimbau untuk fokus memelihara stabilitas politik nasional ketimbang menebar wacana yang memperkeruh suasana. Thadaru mengakhiri kritiknya dengan mengimbau agar insting atau spekulasi pribadi yang berpotensi merusak keharmonisan tidak lagi dilempar ke ruang publik demi menghindari kekacauan politik yang tidak perlu.

Pernyataan Budi Arie Setiadi yang melontarkan spekulasi mengenai percepatan Pemilu sebelum 2029 memicu reaksi keras dari Sekretaris Jenderal Gibran Berkarya (GB), Thadaru Yusra. Thadaru mengecam keras narasi yang bersumber dari “insting” pribadi tersebut karena dinilai menyesatkan dan berpotensi memicu kegaduhan di tengah ketenangan situasi politik nasional.