Putin Tanggapi Sindiran Trump Soal Perang Ukraina

Vladimir putin us election

Moskow SINAR DUNIA MEDIA – Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan respons santai terhadap kritik Presiden AS Donald Trump yang kecewa atas lambatnya penyelesaian konflik Rusia–Ukraina. Dalam pernyataannya pada 1 Agustus 2025, Putin menyindir Trump agar tidak memiliki ekspektasi berlebihan:

“Semua kekecewaan muncul dari ekspektasi yang berlebihan,” ujar Putin, menekankan bahwa penyelesaian damai membutuhkan diskusi menyeluruh, baik terbuka maupun tertutup.

Putin juga menegaskan komitmen Rusia terhadap solusi damai dan menyebut Moskow telah mengusulkan pembentukan tiga kelompok kerja dengan Kyiv. Ia menyatakan siap menunggu jika Ukraina belum siap untuk berunding.

Ketegangan Meningkat : Trump Kirim Kapal Selam Nuklir

Ketegangan memuncak setelah Dmitry Medvedev, sekutu Putin dan mantan Presiden Rusia, menyindir Trump di media sosial. Medvedev mengingatkan bahwa Rusia memiliki kemampuan nuklir era Soviet sebagai “pilihan terakhir”.

Sebagai respons, Trump memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir ke dekat Rusia, menyebut pernyataan Medvedev sebagai provokasi serius:

“Medvedev memasuki wilayah yang sangat berbahaya,” tulis Trump di akun Truth Social.

Trump juga mengeluarkan ultimatum 10 hari kepada Putin untuk menghentikan perang, atau menghadapi sanksi ekonomi besar-besaran, termasuk tarif 100% dan sanksi terhadap mitra dagang Rusia seperti China dan India.

Trump: “Putin Terus Beri Omong Kosong”

Dalam wawancara sebelumnya, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap Putin :

“Kami terus mendapat banyak omong kosong dari Putin… Dia terdengar ramah di awal, tapi semua itu ternyata tidak berarti apa-apa,” kata Trump.

Trump juga menyetujui pengiriman senjata defensif ke Ukraina dan mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap Rusia.

Kesimpulan

Hubungan antara Trump dan Putin semakin memanas, dengan retorika keras dan ancaman militer serta ekonomi. Putin tetap tenang dan menekankan diplomasi, sementara Trump memilih pendekatan tekanan dan ultimatum. Medvedev, sebagai tokoh garis keras Rusia, turut memperkeruh suasana dengan sindiran tajam dan peringatan nuklir.

Sumber Kompas.com